Kamis, 01 Oktober 2020
Home/ Berita/ Penjelasan Tafsir QS Al Baqarah Ayat 114 dalam Tafsir At-Tanwir

Penjelasan Tafsir QS Al Baqarah Ayat 114 dalam Tafsir At-Tanwir

MUHAMMADIYAH.ID YOGYAKARTA -  Pengajian Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah menginjak edisi ke-100. Tema yang diangkat dalam pengajian tersebut mengupas Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah QS. Al-Baqarah ayat 114-117. Hamim Ilyas selaku narasumber mengatakan bahwa ada perbedaan mendasar di antara para ulama ketika menafsirkan kata “man” pada penggalan QS. Al-Baqarah ayat 114.

“Para ulama menyebutkan bahwa lafal man di ayat ini adalah orang-orang kafir. Ulama lain menyebutkan bahwa lafal man di sini adalah Buhtan Nahsara yang pada abad ke-7 membakar kitab Taurat lalu membawa orang yahudi ke berbagai wilayah yang dikuasai orang Persia. Ulama lain menyebutkan bahwa lafal man di sini adalah orang-orang musyrik Makkah, yaitu yang menghalangi Nabi beribadah di Masjidil Haram. Mereka juga mengusir Nabi dari Makkah,” ujar Hamim pada Rabu (10/09).

Hamim menerangkan dalam al-Qur’an term orang kafir adalah orang yang memusuhi orang Islam, bukan sekadar orang non muslim. Orang kafir pada QS. Al-Baqarah ayat 114 ini disebutkan mereka menghalang-halangi masjid untuk digunakan menyebut nama Allah.

“Dalam tafsir ini disebutkan lafal masjid yang berarti tempat bersujud atau tempat peribadatan. Yang menjadi makna masjid itu bukan hanya tempat peribadatan orang islam saja, tapi juga tempat peribadatan non muslim. Dalam balaghah disebutkan bahwa hal ini menyebutkan sebagian dari unsur ibadah, tapi yang dimaksudkan adalah keseluruhan ibadah. Dan yang disebutkan dalam ayat ini adalah ibadah menyebut nama Allah. Dan dalam agama islam Ibadah apapun pasti ada unsur menyebut nama Allah,” terang Hamim.

Hamim memberikan contoh pada praktek pelaksanaan salat. Ia mengatakan bahwa dalam salat seorang muslim mesti menyebut nama Allah dalam gerakan takbiratul ihram dan salam. Tanpa menyebut nama Allah, salatnya tidak sempurna bahkan mungkin tertolak.

“Doa itu adalah ruhnya otak. Karena otak yang menggerakan seluruh badan. Maka menyebut Allah dalam ibadah menjadi unsur terpenting. Salat kita diawali takbir dan diakhiri salam, itu karena maknanya memuja Allah. Ketika kita takbir maka hasilnya adalah menebarkan salam. Salat itu hasilnya adalah menebarkan kedamaian rahmat dan berkat,” kata dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga ini.

Kemudian Hamim menjelaskan bahwa tindakan lain yang  dilakukan orang kafir yang diceritakan dalam QS. Al-Baqarah ayat 114 ini adalah mereka mencoba merubuhkan masjid. Lalu ketika umat Islam mendapatkan halangan dalam beribadah, kata Hamim, sikap pertama yang ditunjukkan adalah melancarkan sikap kritis yang dihiasi dengan moral.

“Sikap pertama adalah sikap kritis secara moral. Kalimat wa man adhlamu dalam ayat ini berarti siapakah yang lebih zalim? Ini tidak sekadar istifham, tapi untuk pengingkaran, yaitu tidak membenarkan kegiatan menghalangi ibadah. Tidak ada orang yang lebih zalim daripada orang yang menghalangi ibadah pada Allah. Maka menghalangi ibadah adalah puncak kezaliman dan ketidak-adilan. Karena kodrat manusia adalah makhluk beragama,” tutur Hamim.

Gambaran ini, kata Hamim, dijelaskan dalam ayat primorgial, yaitu ‘alastu birobbikum. Qaluu bala syahidna...’. Hamim menegaskan bahwa ayat ini menjelaskan kodrat manusia adalah makhluk beragama.

“Dalam ayat itu menjelaskan bahwa orang yang menghalangi ibadah sebenarnya dalam hati mereka itu ada perasaan takut. Ketika Nabi hijrah ke Madinah, mereka sempat memonopoli Masjidil Haram untuk beribadah yang menyimpang seperti thawaf dengan telanjang bulat sambil merapalkan syair. Tapi ketika melakukan monopoli sebenarnya hati mereka diliputi ketakutan jika suatu saat Masjidil Haram direbut dari mereka,” terang Hamim.

Sikap yang kedua adalah dengan keyakinan bahwa segala yang ada di langit dan bumi segalanya milik Allah. Hamim mengatakan bahwa di manapun seorang muslim berpaling di sana ada diri Allah. Saat muslim dihalangi ibadah di Masjidil Haram, maka dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa di manapun muslim itu beribadah, maka Allah tetap berada di sana. Seolah Allah menghibur bahwa Nabi dan umatnya tidak perlu risau saat tidak bisa beribadah di Masjidil Haram, karena kemanapun seorang muslim menghadap, maka ktetap menghadap Allah.

Hamim kemudian menerangkan ayat berikutnya dalam Al-Baqarah yaitu ayat 16 dan 17. Dalam ayat tersebut disebutkan latar belakang orang kafir menghalangi beribadah di masjid itu lantaran mereka memiliki kepercayaan bahwa Allah memiliki anak.

“Hal itu langsung dibantah bahwa Allah itu maha suci dari memiliki anak. Kemusyrikan yang mereka anut adalah kepercayaan yang mendegradasikan kehidupan, yaitu kembali pada tidik nadir peradaban manusia, sampai mereka malu saat punya anak perempuan,” terang Hamim. (ilham)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *