Senin, 16 Desember 2019
Home/ Berita/ Muhammadiyah Sebagai Solusi Peradaban

Muhammadiyah Sebagai Solusi Peradaban

MUHAMMADIYAH.ID, SLEMAN— Kader atau tokoh muda Muhammadiyah harus berani tampil di depan, dan saling berkolaborasi dengan tokoh-tokoh tua Muhammadiyah. Tidak bisa lagi urusan Muhammadiyah diserahkan kepada yang tua-tua, karena dunia kedepan adalah dunianya anak muda.
 
Menurut Din Syamsudin, Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015, pada Rabu (20/11) dalam acara Diskusi Pengkaderan Muhammadiyah yang diadakan Majelis Pendidikan Kader (MPK) PP Muhammadiyah mengatakan, Muhammadiyah sebagai organisasi Islam berkemajuan selalu memiliki orientasi jauh kedepan, bahkan pandangan melampaui zaman menjadi kebiasaan yang sudah ditradisikan di Muhammadiyah. 
 
Selain berkemajuan, Din mengamati terdapat kata atau konsep kunci yang lekat dengan Muhammadiyah yaitu pencerahan dan pembaharuan.
 
“Pemikiran dan gagasan yang dimiliki Muhammadiyah sejak awal selalu dinamis, sehingga meniscayakan terjadinya transformasi pada setiap kepemimpinan. Sebagai organisasi, Muhammadiyah tidak bisa hanya dilihat dari tokoh-tokoh atau individu kuat. Tapi mereka harus merefleksikan nilai-nilai dasar Muhammadiyah," tutur Din.
 
Hal ini berbeda dengan yang terjadi sebelum tahun 80 dan 90 an, dimana individu-individu kuat di Muhammadiyah lebih menonjol ketimbang organisasi. Meskipun demikian, semangat yang tokoh-tokoh ini usung adalah tetap untuk kepentingan Muhammadiyah, mereka tetap integral dengan keputusan maupun kebijakan yang ditentukan oleh PP Muhammadiyah secara kolektif.
 
Maka, tegas Din, saat ini peran tokoh atau individu berpengaruh yang bernaung di bawah payung Muhammadiyah harus merupakan refleksi yang telah menjadi keputusan organisasi Muhammadiyah. Tapi juga tidak bisa menutup improvisasi yang dilakukan oleh pribadi tokoh-tokoh tersebut ketika menyampaikan. Karena ini menyangkut peran yang sedang dimainkan oleh Muhammadiyah sebagai organisasi Islam di depan publik.
 
Transformasi pemikiran yang terjadi di tubuh Muhammadiyah merupakan suatu yang biasa terjadi, akan tetapi biasanya pemikiran-pemikiran baru tidak bisa lepas sama sekali dari produk pemikiran lama. Kebaharuan pemikiran yang digunakan saat ini juga berangkat dan memiliki irisan dengan pemikiran lama. Terkadang juga hanya casing yang disegarkan, memakai istilah-istilah yang baru dan beda.
 
“Peran pemurnian dan pembaharuan. Lalu muncul ideologi at tawazun baina tajrid wa tajdid, sebagai bagian dari konsep Islam Tengahan. Munculnya ini ditujukan sebagai cara menjaga prinsip tengahan ala Muhammadiyah, melalui pemberian kontekstualisasi baru," tambah Din. 
 
Seperti adanya pemilihan istilah Tanwir sebagai musyawarah tertinggi kedua Muhammadiyah setelah Muktamar, menurut Din, selain Muhammadiyah sangat jarang organisasi lain memakai istilah mendalam dan filosofis untuk menamai musyawarah mereka. Pemakaian istilah Tanwir menyebabkan Muhammadiyah juga dikenal sebagai ‘al harokah at tanwiriyah’ atau organisasi/gerakan pencerahan.
 
Pemilihan bahasa untuk menamai suatu gagasan dalam Muhammadiyah sangat berpengaruh kepada penerimaan warga persyarikatan, dalam analisisnya, Din mengatakan warga Muhammadiyah akan lebih menerima istilah yang memakai bahasa Arab dari pada bahasa asing lain misalkan Inggris. Karena istilah yang menggunakan bahasa Inggris di benak warga persyarikatan Muhammadiyah masih dianggap sebagai representasi dari sekulerisme dan liberalisme.
 
“Akan tetapi tidak cukup hanya memilih bahasa Arab, akan tetapi harus dicari dalilnya dari teks agama," katanya.
 
Pembebasan, pemberdayaan dan pemajuan sebagai konsekuensi atas pemilihan dakwah pencerahan yang dipilih oleh Muhammadiyah. Secara teknis, dakwah pencerahan juga melalui pemanduan antara tradisionalitas dan modernitas. Pencerahan ditempuh tidak cukup hanya dengan kreatifitas tapi juga inovatif, tapi inovatif yang berkelanjutan. Maka berkemajuan adalah maju melebihi konsep berkemajuan itu sendiri, gerak yang dinamis berbentuk spiral vertikal dan bertujuan menciptakan khoiruh ummah.
 
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini mengusulkan trilogi baru sebagai pijakan untuk menghadapai tantangan umat di masa sekarang dan mendatang, yakni taat tauhid sebagai pijakan atas segala tindakan yang dilakukan, al khilafah dalam arti luas untuk kemanusiaan atau khilafah paranial bukan mengusung negara Islam, karena sudah menjadi tugas manusia sebagai Khalifatullah fil ardh, dan Islah sebagai tugas manusia untuk merestorasi dan rekonstruksi yang berdimensi ganda, yakni al Asriyah (modernitas) dan al Wasathiyah (tengahan).
 
“Dilihat dari luar Muhammadiyah memiliki potensi solusi untuk peradaban. Dengan melakukan perbaikan pada tataran nilai, struktur dan kultur. Value kita sudah kaya tentang nilai keMuhammadiyahan, struktur gerakan harus diperbaharui karena sudah tidak cocok dengan zaman, dan kultur harus tetap dipertahankan. Ini menjadi agenda kedepan, saya optimis karena Muhammadiyah memiliki modalitas untuk itu," tutup Din. (a'n) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *