Minggu, 22 September 2019
Home/ Berita/ Belajar Akhlak dari Tokoh Pendahulu Muhammadiyah

Belajar Akhlak dari Tokoh Pendahulu Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Maka Pecahlah Muhammadiyah,judul yang dipilih oleh Buya Hamka dalam tulisan yang diterbitkan oleh Harian Abadi benar-benar memicu polemik di dalam internal tubuh Muhammadiyah. Pasalnya, dalam tulisan tersebut Buya Hamka menyebut Muhammadiyah terbelah menjadi dua kelompok, dalam istana dan luar istana.

Munculnya tulisan tersebut merupakan respon atas diangkatnya Moelyadi Djojomartono (Pak Moel) yang merupakan tokoh Muhammadiyah, oleh Presiden Soekarno sebagai Mentri Sosial Kabinet Dwikora III periode 24 februari 1966-25 juli 1966, disaat polemik antara umat Islam dan Soekarno/Pemerintah sedang ‘mendidih’.

Dimana sebelumnya, kemarahan dan kontras yang dilakukan Hamka terhadap pemerintah dipicu atas pembubaran Partai Masyumi oleh Soekarno pada 13 september 1960. Pembubaran tersebut menyulut amarah banyak kalangan Islam, terlebih para tokoh Islam yang berjuang dan mengandalkan Masyumi sebagai kendaraan dakwahnya.

Hamka menilai, diangkatnya Pak Moel merupakan hasil dari strategi yang dilakukan oleh KH. Farid Ma’ruf yang berusaha menyeret Muhammadiyah masuk ke Istana. Akibatnya, Farid Ma’ruf dan Moelyadi disudutkan oleh sebagian besar warga Muhammadiyah. Padahal KH. Farid Ma’ruf saat itu sedang menjabat sebagai anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah di bawah kepemimpinan KH Ahmad Badawi.

Sekedar informasi, KH Farid Ma’ruf merupakan putra Kauman Yogyakarta yang lahir pada 25 Maret 1908. Alumni Universitas al Azhar, Mesir 1932 ini juga aktif di sebagai anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah sejak tahun 1933 sampai 1969, selain itu beliau juga aktif sebagai anggota Pengurus Besar Partai Islam Indonesia (PII) sejak tahun 1938. Beliau wafat pada 6 agustus 1976.

Permasalahan ini berdampak panjang, kemudian pada Sidang Tanwir di Gedoeng Moehammadiyah, Yogyakarta. Hamka diminta tampil di mimbar guna klarifikasi dan pertanggungjawaban atas tulisannya di Harian Abadi.

Hamka menuju mimbar, berdiri tenang, namun tiba-tiba pelupuk matanya dipenuhi air mata. Dengan suara tersendat Hamka mengakui jika perasaannya tersentuh, segera tangannya mencari bulpen lalu menulis bahwa, semua yang ditulis di harian Abadi bermaksud baik, didorong atas besarnya rasa cinta kepada Muhammadiyah. Dan apabila tulisannya tersebut menyinggung KH. Farid Ma’ruf, ia memohon maaf kepada Allah, keluarga Muhammadiyah dan KH Farid Ma’ruf.

Giliran KH Farid Ma’ruf tampil di mimbar, beliau membawa map berisi berkas-berkas sebagai bahan jika dia diserang oleh Hamka dengan bertubi-tubi. Ia siap memberikan balasan. Namun ketika diatas mimbar, beliau terdiam lama. Karena sikap yang ditunjukkan Buya Hamka tidak seperti perkiraannya.

Bukan lagi menyerang, yang dilakukan oleh KH Farid Ma’ruf tidak jauh dengan Buya Hamka. Dengan suara bergetar dan parau, beliau meminta maaf di depan umum. Kemudian dengan tenang menjelaskan alasan Pak Moel menerima jabatan Mentri adalah benar-benar diniatkan baik dan demi Muhammadiyah. Karena beliau mengaggap Muhammadiyah masih perlu untuk menjalin komunikasi dengan pemerintah demi gerakan dakwah dan amal usahanya.

Perbedaan antara KH. Farid Ma’ruf dan Buya Hamka sama-sama didorong niat baik. KH. Farid Ma’ruf melanjutkan, Jika pendiriannya salah dan dikhawatirkan menarik Muhammadiyah ke Istana, Farid berujar, “Maka dengan ikhlas saya mengundurkan diri dari Pimpinan Pusat....”.

Belum selesai kalimat itu diucapkan, Hamka berdiri dan mengacungkan tangan. “Pimpinan,” serunya, “Jangan saudara Farid mundur. Kita sangat membutuhkan dia. Saya, Hamka yang harus mundur.....”, seketika ruang persidangan di Gedoeng Moehammadiyah jalan KH. Ahmad Dahlan, no 103 Yogyakarta hening dan berselimut haru.

Mendengar itu, KH. Farid Ma’ruf turun dari mimbar menuju Hamka, dan Buya Hamka juga menyongsong tokoh yang dihormatinya itu, lalu mereka berpelukan. Semua peserta sidang tertegun, kemudian menyusul ucapan hamdalah, tepuk tangan dan kumandang takbir. Persoalan selesai, sidang Tanwir yang sempat dikhawatirkan deadlock kemudian kembali berjalan lancar dan membicarakan agenda lain. Setelah itu muncul berita di harian Abadi berjudul, “Muhammadiyah Tidak Pecah.”(a’n)

Sumber Rujukan: Buku 100 Tokoh Muhammadiyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *